Reaksi Substitusi Nukleofilik
Reaksi substitusi nukleofilik merupakan reaksi terjadinya penyerangan dari sebuah atom C dari rantai karbon yang mengikat gugus pergi (leaving group) oleh nukleofil yang kaya elektron ke muatan positif secara selektif. Sehingga, nukleofil akan menggantikan gugus pergi (leaving group). Reaksi substitusi antara alkil halida dengan nukleofilik, halida disebut sebagai gugus pergi (leaving grup)
Untuk memahami pengertian diatas, kita harus tau terlebih dahulu komponen – komponen
penting yang berkaitan dengan reaksi substitusi nukleofilik. Yang terdiri dari
:
1. Alkil Halida
Alkil
halida merupakan molekul organik yang terdiri dari suatu atom halogen yang
berikatan dengan atom karbon yang memiliki hibridisasi Sp3
2.
Leaving Group
Pada
reaksi substitusi nukleofilik R-X, ikatan C-X mudah lepas, dan leaving group
lepas dengan mengambil elektron yang digunakan untuk berikatan membentuk X-
. karena leaving group lebih stabil jika menerima pasangan elektron. secara singkat, gugus pergi merupakan gugus yang dapat digeser dari ikatannya dengan suatu atom karbon.
3. Nukleofilik
Nukleofili
(secara harfiah pecinta nukleus), bersifat kaya akan elektron dan membentuk
ikatan dengan menyumbangkan elektronnya pada elektrofili. Sedangkan elektrofili
merupakan kebalikan dari nukleofili yang kekurangan elektron.
Nukleofili
menyerang karbokation dalam alkil halida. Sedangkan basa menyerang atom Hβ yang
terletak pada atom C yang berikatan dengan karbokation.
Untuk
lebih pahamnya, perhatikan contoh berikut :
etil bromida etanol
ion
hidroksida ialah nukleofili yang bereaksi dengan substrat (etil bromida) dan
menggantikan ion bromida. Ion bromida inilah yang dinamakan gugus pergi
(leaving group).
Dari persamaan diatas,
dapat dilihat jika nukleofili netral, maka produk akan bermuatan positif. Jika
nukleofili bermuatan negatif, maka produk akan bermuatan netral. Pada kedua
kasus ini, pasangan elektron bebas pada nukleofili memasok elektron untuk ikatan
kovalen yang baru.
Mekanisme Substitusi Nukleofilik
Mekanisme substitusi
nukleofilik terbagi menjadi 2, yang dimana keduanya diberi lambang SN2
dan SN1. SN merupakan singkatan dari “substitusi
nukleofilik”. Sedangkan untuk angka 2 dan 1 nya akan dijelaskan setiap
mekanismenya.
Mekanisme SN2
Mekanisme SN2
ialah proses satu langkah yang menyukai metil halida dan halida primer; ikatan
pada gugus pergi mulai putus bersamaan dengan terbentuknya ikatan pada
nukleofil. Angka 2 digunakan untuk menjelaskan bahwa reaksi ini bimolekular,
yang dimana artinya terdapat 2 molekul yaitu nukleofili dan substrat. Mekanisme
SN2 dinyatakan dengan persamaan berikut :
Nukleofili menyerang
dari sisi belakang dari ikatan C – L , dapat dilihat ada cuping belakang yang
kecil pada orbital ikatan hibrid sp3. Pada keadaan tertentu
(transisi), nukleofili dan gugus pergi (leaving grup) akan terikat dengan
karbon tempat berlangsungnya substitusi secara parsial.
Pelarut Reaksi SN2
Kecepatan reaksi SN2
sebagian besar dipengaruhi oleh jenis pelarut. Pelarut protik (berproton) yang
mengandung gugus –OH atau NH2 kurang disukai reaksi SN2. Reaksi
SN2 dapat bereaksi dengan baik apabila menggunakan pelarut aprotik
yang pelarut polar namun tidak memiliki gugus –OH ataupun NH2. Pelarut
polar aprotik memiliki sifat tertentu, antara lain :
1. Memiliki
momen dipol yang besar
2. Dapat
melarutkan spesi bermuatan positif dari kutub negatif yang dimilikinya
3. Memiliki
polaritas yang sangat besar sehingga dapat mensolvasi garam – garam dan
cenderung untuk mensolvasi kation daripada anion logam yang mengakibatkan anion
– anion menjadi tidak tersolvasi dan menaikan energi nuklefiliknya sehingga
reaksi SN2 menjadi lebih cepat.
Contoh pelarut protik yaitu : aseton, etil asetat, diklorometan, asetonitril, DMSO, DMF dan THF
Permasalahan:
- Kecepatan reaksi SN2 sebagian besar dipengaruhi oleh jenis pelarut. Namun, pelarut protik (berproton) yang mengandung gugus –OH atau NH2 kurang disukai reaksi SN2. Mengapa demikian?
- Bagaimana jadinya bila kita tidak peduli untuk membedakan apakah reaksi substitusi nukleofilik berlangsung melalui mekanisme SN2 ataupun SN1?
- Seperti yang telah diketahui, bahwa
reaksi SN2 bergantung pada nukleofilik. Jika nukleofiliknya kuat
maka mekanisme SN2 cenderung terjadi. Bagaimana cara kita mengetahui
apakah suatu nukleofilik kuat atau lemah?
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
ReplyDeleteNama saya Liveya parandika dengan Nim A1C117014 disini saya akan membantu menjawab permasalahan dari Siti may,yaitu pada nomor 3,pertanyaannya adalah bagaimana cara kita mengetahui nukleofilik itu kuat atau lemah,Kekuatan nukleofilik relatif dari atom dapat dijelaskan dengan melihat produk yang akan terbentuk jika atom-atom ini bertindak sebagai nukleofil. Kita bandingkan tiga molekul HF, H2O, dan NH3 dan lihat apa yang terjadi jika mereka membentuk sebuah ikatan untuk membentuk sebuah proton.Karena proton memiliki elektron, baik elektron untuk ikatan baru harus berasal dari pusat-pusat nukleofilik (yaitu F, O, dan N). Akibatnya, atom-atom ini akan memperoleh muatan positif. Jika hidrogen fluorida bertindak sebagai nukleofil, maka atom fluor melepas muatan positif. Karena atom fluor adalah sangat elektronegatif, tidak menerima muatan positif. Oleh karena itu, reaksi ini tidak terjadi. Oksigen sangat kurang elektronegatif dan dapat menerima muatan positif sedikit lebih baik, sehingga kesetimbangan adalah mungkin antara spesies diisi dan bermuatan.
Nitrogen adalah elektronegatif setidaknya dari tiga atom dan muatan positif dengan baik sehingga reaksi tidak dapat diubah dan garam terbentuk. Dengan demikian, nitrogen sangat nukleofilik dan biasanya akan bereaksi seperti itu, sedangkan halogen yang nukleofilik lemah dan jarang akan bereaksi seperti itu. Terakhir, perlu dicatat bahwa semua molekul ini nukleofil lemah dari anion mereka yang sesuai, yaitu HF, H2O, dan NH3 merupakan nukleofil yang lebih lemah masing-masing dari F-, OH- dan NH2-.
Baiklah, saya di sini Salsa Billa Aprianti ingin menjawab masalah nomor 2. (leadencrocus.wordpress.com) Jika kita tidak peduli dengan perbedaan mekanisme SN2 dengan SN1. Maka salah satunya kita bisa melakukan kesalahan dan terjadi kecelakaan dalam melakukan praktik di laboratorium. Karena kita perlu mengetahui dengan pasti bahwa reaksi akan berlangsung cukup cepat untuk memperoleh produk dalam waktu yang layak. Jika reaksi mengandung konsekuensi stereokimia, kita harus mengetahui terlebih dahulu apakah hasilnya akan inversi atau rasemisasi.
ReplyDeleteNama saya Emy yulia dengan Nim A1C117064, disini saya ingin membantu menjawab permasalahan may pada no 1. mengapa pelarut protik(berproton) yang mengandung gugus -OH dan NH2 kurang disukai reaksi SN2,karena pelarut protik(berproton) tersebut dapat memperlambat reaksi SN2. Pelarut berpeoton akan menurunkan kecepatan reaksi SN2 dengan cara mengelilingi reaktan nukleofil dan dia akan menurunkan energinya. Molekul pelarut tersebut akan mengelilingi nukleofilik dan membentuk ikatan hidrogen sehingga dapat menstabilkan nukleofilik dan dapat memperlambat reaksinya. Itulah alasan mengapa pelarut protik(berproton) yang mengandung gugus -OH dan NH2 kurang disukai pada reksi SN2.
ReplyDelete